Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rubama M, Menebar Manfaat Dari Sampah untuk Iuran Sekolah


Sampah merupakan masalah komplek yang sering terjadi di berbagai wilayah. Namun di tangan perempuan kreatif bernama Rubama, limbah tersebut justru bermanfaat. Bahkan bisa mendorong kemajuan dunia pendidikan, khususnya bagi anak-anak di Gampong, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar yang terletak di pinggir Jalan Banda-Meulaboh.


Daerah ini tidak luput dari bencana tsunami tahun 2004 silam. Bahkan hampir semua bangunan luluh lantak yang mengharuskan semua warga menetap di pengungsian. 


Belajar Memanfaatkan Sampah


Di tempat pengungsian tersebut, Ruhama dan warga lain tidak hanya berteduh selama belum mempunyai rumah untuk tinggal, mereka juga menjalankan berbagai aktivitas secara bersama. Salah satunya adalah belajar berbagai keterampilan, diantaranya memanfaatkan limbah sampah menjadi produk yang bermanfaat. 


Relawan yang datang mengajarkan masyarakat untuk bisa mandiri secara ekonomi dengan membuat berbagai kerajinan berbahan sampah yang ada. Bukan hanya remaja, ibu-ibu dan para lelaki turut dalam pelatihan tersebut. Namun hanya beberapa perempuan saja.


Setelah program dari relawan dihentikan, semakin sedikit orang yang mau terus terlibat dalam program tersebut karena harus mengeluarkan modal sendiri. Sementara Rubama melihat potensi kerajinan berbasis sampah ini sangat besar.


Dari Sampah Menjadi Rupiah


Melihat potensi sampah yang cukup besar membuat Rubama tidak patah semangat. Dari anggota komunitas yang sebelumnya berjumlah 120 orang, tersisa 15 orang perempuan yang masih mau peduli dengan sampah.


Karena program dari relawan sudah berhenti, sebagai modal utama mereka iuran dan terkumpul sebanyak Rp. 100 ribu.


Modal tersebut digunakan untuk membeli berbagai macam alat dan bahan. Usaha daur ulang sampah pun mulai berjalan.


Sampah anorganik yang berupa bungkus kopi, bungkus sabun, plastic dan lainnya disulap menjadi tempat tisu, bunga hias, tas, dompet dan pernak-pernik lainnya. Kerajinan tersebut kemudian dipasarkan dengan harga dari Rp. 1 ribu hingga Rp 250 ribu.


Pengrajin pun bisa mendapatkan penghasilan antara Rp. 1 juta hingga Rp. 2 juta dari daur ulang sampah tersebut. Semua produksi dipasarkan di sebagai paket wisata di Gampong Nusa.


Bukan itu saja, ibu-ibu pengrajin tersebut juga membuka kursus belajar kerajinan dari bahan limbah anorganik tersebut dengan biaya Rp. 350 ribu untuk dua jenis produk.


Sampah untuk Sekolah


Berkaitan dengan sampah, daur ulang dan penghasilan tambahan untuk ibu-ibu pengrajin, ternyata sangat berdampak positif bagi proses pendidikan di Gampong.


Awalnya Rubama mengamati bahwa banyak orang tua yang ingin menitipkan anaknya untuk belajar di Taman Pendidikan AlQuran namun kesulitan untuk membayar iuran bulanan.


Menghadapi masalah ini, Rubama pun putar otak bagaimana membantu mereka, sementara tidak semua mempunyai keterampilan dan bisa membuat kerajinan dari sampah. Rubama pun ingin mengajari anak-anak untuk lebih mandiri sehingga bisa membayar sendiri iuran bulanan untuk TPA sebesar Rp. 5 ribu. 


Rubama pun mengumpulkan anak-anak dan menyampaikan bahwa mereka bisa membawa sampah yang akan ditukar dengan uang. Sebenarnya program ini bisa untuk siapa saja namun lebih banyak anak-anak yang terlibat.


Setiap hari Minggu, mulai pukul 10.00 WIB hingga 11.00 WIB anak-anak akan datang membawa sampah anorganik ke bank sampah. Prosedurnya seperti menabung ke bank, masing-masing anak mempunyai buku tabungan.


Proses tersebut semua dilakukan oleh anak-anak. mulai dari menerima setoran, memilah hingga membawanya ke pengepul. Ini juga menumbuhkan sikap kerja keras pada anak-anak.


Jika sudah terkumpul sejumlah uang dari penjualan sampah tersebut akan digunakan untuk memotong biaya iuran bulanan. Bahkan banyak yang akhirnya semua iuran berasal dari uang sampah tersebut.


Terus Mengembangkan Potensi Desa Gampong


Berawal dari sampah tersebut Rubama bisa membuka kesempatan kepada ibu-ibu untuk mendapatkan penghasilan. Perempuan alumni IPB ini juga bisa mengajarkan kemandirian kepada anak-anak.


Bukan hanya membayar iuran sekolah di TPA dengan sampah, tetapi anak-anak juga belajar bekerja tanpa meninggalkan dunianya. Anak-anak pun bisa memanfaatkan waktu dengan lebih bermanfaat.


Usaha Rubama tidak berhenti sampai di situ. Perempuan ini juga mengajak masyarakat untuk memaksimalkan potensi desa tercintanya dengan membuka desa wisata yang dapat meningkatkan perputaran ekonomi rakyat.


Rubama telah berhasil membawa banyak perubahan untuk masyarakat di sekitarnya. Berkat kerja keras dan dedikasinya pada lingkungan sekitar, membawanya mendapat anugerah Satu Indonesia Astra yang merupakan apresiasi kepada semua pihak yang tergerak untuk membawa perubahan.


Jika Rubama bisa, maka kita pun pasti bisa. Masih banyak yang bisa kita lakukan untuk membawa lingkungan sekitar menjadi lebih berdaya dan semakin baik. Kini giliran kita untuk berkontribusi bagi Indonesia.