Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wa Ode Nofrianti, Perempuan di Balik Kemudi Layanan Perahu Pintar dari Konawe

Pagi itu, matahari baru saja naik di ufuk timur. Riak air memantulkan cahaya keemasan di antara perahu-perahu nelayan yang berlabuh di pesisir Konawe, Sulawesi Tenggara. 

Di tengah kesibukan orang-orang yang bersiap melaut, sebuah perahu kayu tampak berbeda. 

Bukan jaring atau ikan yang memenuhi lambungnya, melainkan buku-buku berwarna cerah, poster edukatif, dan beberapa alat peraga sederhana.

Di dinding perahu terpampang tulisan besar: “Perahu Pintar.”

Bagi anak-anak di pesisir ini, suara mesin perahu itu seperti lonceng sekolah yang mereka tunggu-tunggu. 

Mereka akan segera berkumpul di tepi dermaga, sebagian tanpa alas kaki, sebagian masih dengan pakaian seadanya. 

Namun, di wajah mereka terpancar antusiasme yang jarang terlihat di tempat lain, semangat belajar yang lahir dari kesempatan yang terbatas.

Ketimpangan Pendidikan yang Nyata

Sementara di kota besar, pendidikan sering dianggap sesuatu yang otomatis tersedia. Ruang kelas ber-AC, proyektor menyala, internet cepat mengalir, dan buku-buku pelajaran terhampar rapi di rak perpustakaan. 

Namun, di pesisir-pesisir seperti ini, “sekolah” bisa berarti satu ruangan kecil beratap seng, dengan papan tulis yang mulai pudar dan kursi kayu yang tinggal separuh.

Kesenjangan itu bukan sekadar statistik, melainkan kenyataan yang sehari-hari dihadapi anak-anak di daerah terpencil. 

Infrastruktur terbatas, guru datang dan pergi, jaringan internet hampir tak terjangkau. Semua hal itu menciptakan jurang lebar antara mereka yang lahir di pusat kota dan mereka yang tumbuh di tepi laut.

Dari kegelisahan terhadap jurang itu, sekelompok anak muda di Sulawesi Tenggara menggagas sesuatu yang sederhana, tapi penuh makna: menjadikan laut bukan sebagai batas, melainkan sebagai jembatan menuju pengetahuan.

Lahirnya Sebuah Gerakan

Adalah Sultra Island Care (SIC), sebuah organisasi masyarakat yang juga mengelola Perpustakaan Desa Rumah Panre Dilao, yang pertama kali mencetuskan ide ini. 

Mereka melihat sendiri bagaimana rendahnya minat baca masyarakat di pesisir, bukan karena tidak mau belajar, melainkan karena buku dan sumber belajar nyaris tak pernah sampai ke tangan mereka.

Dari situ, lahirlah program Perahu Pintar, sebuah inisiatif yang memadukan dua hal penting: pendidikan dan kesehatan. 

Perahu ini bukan sekadar mengantarkan buku, tapi juga membawa guru relawan, tenaga medis, dan para pelatih IT ke desa-desa pesisir yang sulit dijangkau kendaraan darat.

“Kalau anak-anak tak bisa datang ke perpustakaan, maka biarlah perpustakaan yang mendatangi mereka,” begitu semangat yang dipegang oleh tim SIC.

Menyatu dengan Masyarakat

Perjalanan setiap perahu bukanlah hal yang mudah. Ombak bisa tinggi, cuaca bisa berubah dalam sekejap. 

Tapi di balik semua itu, ada dukungan besar dari masyarakat pesisir sendiri. Para pemilik perahu dengan sukarela menawarkan kapal mereka untuk dijadikan sarana belajar keliling.

“Biar perahu ini bukan cuma cari ikan, tapi juga nyari ilmu,” kata seorang nelayan sambil tersenyum, matanya menatap buku-buku di dalam perahunya

Setiap kali perahu berlabuh, suasananya seperti pesta kecil. Anak-anak menunggu dengan seragam seadanya, para ibu datang membawa makanan ringan untuk para relawan. 

Ada yang membuka buku cerita, ada yang belajar mengetik di laptop usang, ada pula yang antri untuk pemeriksaan kesehatan gratis. 

Laut menjadi ruang kelas, dermaga menjadi tempat belajar, dan udara asin menjadi saksi bahwa ilmu memang bisa datang dari mana saja.

Gelombang yang Membawa Perubahan

Beberapa bulan berlalu, perubahan kecil mulai terasa. Anak-anak di pesisir kini mulai lancar membaca, beberapa sudah berani menulis surat untuk teman-teman mereka di desa sebelah. 

Di papan kayu dekat pelabuhan, terpampang jadwal kunjungan Perahu Pintar berikutnya—bukti bahwa pengetahuan kini punya jadwal tetap di hati mereka.

Dari sisi kesehatan, warga juga mulai terbiasa memeriksa tekanan darah, memahami pentingnya sanitasi, dan menjaga kebersihan lingkungan. Sumur-sumur mulai ditutup rapat, limbah rumah tangga diolah dengan lebih baik, dan masyarakat mulai terbiasa mencuci tangan dengan sabun, di mana hal sederhana yang dulu dianggap remeh.

Perahu Pintar bukan hanya membawa buku dan obat-obatan, tetapi juga menanamkan cara berpikir baru: bahwa perubahan bisa dimulai dari diri sendiri.

Menembus Batas Pesisir

Bagi Wa Ode Nofrianti, salah satu sosok di balik gerakan ini, Perahu Pintar bukan sekadar program sosial, tapi sebuah perjalanan spiritual tentang bagaimana laut yang dulu dianggap penghalang, kini menjadi jalan menuju kemajuan.

“Harapan kami sederhana,” ujarnya, “agar masyarakat pesisir tidak hanya hidup lebih sehat dan cerdas, tapi juga punya keyakinan bahwa mereka bisa mandiri.”

Mimpi mereka kini meluas. SIC ingin agar Perahu Pintar tak berhenti di Konawe saja, melainkan menjangkau seluruh pesisir Sulawesi Tenggara. Mereka tengah menyiapkan langkah besar: memiliki perahu sendiri agar tak lagi bergantung pada pinjaman warga. Bahkan, mereka berharap suatu hari nanti perahu itu dapat menjadi penyedia akses internet bagi masyarakat pesisir — membuka dunia baru lewat layar kecil yang terkoneksi ke samudra pengetahuan global.

Buah dari Kerja Keras Mengantarkan ke Panggung Prestasi

Kerja keras itu tidak berlalu begitu saja. Melalui tangan Wa Ode Nofrianti, Perahu Pintar meraih penghargaan SATU Indonesia Awards tahun 2022 dari Astra di bidang pendidikan. Penghargaan itu menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu datang dari gedung tinggi di kota, tapi bisa lahir dari sebuah perahu kecil yang menolak diam.

Kini, setiap kali Perahu Pintar berlayar, angin laut membawa lebih dari sekadar bau asin. Ia membawa mimpi yang mengembang di dada anak-anak pesisir—mimpi untuk bisa membaca dunia, menulis masa depan, dan berlayar menuju kehidupan yang lebih baik.

Perahu itu mungkin kecil, tapi gelombang yang diciptakannya besar. Sebab dari laut yang luas itu, lahir keyakinan bahwa harapan bisa datang bersama ombak, dan ilmu bisa berlayar sejauh keberanian mereka bermimpi.

#APA2025-PLM